Informasi menjadi sebuah kebutuhan yang paling dicari pada era sekarang ini, dari informasi mengenai kebutuhan sosial, pengetahuan, gaya hidup, berita aktual, teknologi dan lain-lain.
Sumber informasi menjadi sangat dicari untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Mungkin telah kita ketahui ungkapan  “buku adalah sumber ilmu”, banyak orang membeli buku, membaca buku untuk memperoleh informasi yang diinginkan, dari toko buku sampai perpustakaan, namun dengan kemajuan teknologi, dan merupakan hasil dari teknologi yang yang dinamakan Teknologi informasi mampu memberikan kebutuhan informasi ini, ya betul INTERNET, hampir semua informasi dapat kita peroleh dari internet ini.

Internet menjadi sebuah kebutuhan baru pada era sekarang ini, dari hanya sekedar mencari informasi sampai meraup uang dari internet, hadirnya jejaring sosial yang mampu menghubungkan kita dengan berbagai orang diseluruh dunia menjadikan internet ini menjadi sebuah kebutuhan pokok bagi beberapa orang.

Untuk memakai teknologi ini seperti yang telah kita ketahui banyak ditemukan di warnet(warung internet), hanya dengan Rp.2000 - Rp.5000/jam, kita dapat menggunakan jasa ini, namun ada kendala, tidak semua daerah memiliki warnet, dan kita harus sedikit mengeluarkan tenaga untuk sampai ke tempat yang menyediakan warnet ini,






Nah  terima kasih kepada teknologi, karena internet dapat kita peroleh dengan hanya membeli modem dan kartu perdana provider seluller tertentu, kemudian sambungkan ke sebuah laptop atau komputer, dengan ini kita dengan leluasa menggunakan internet bisa di kamar, di ruang tamu dimana pun dirumah kita, atau kalau kita memakai laptop kita bisa internetan dimanapun.
Waaaah ternyata dengan jaman yang serba cepat, serba praktis hal ini pun dianggap ribet, kita harus beli komputer atau laptop, terus beli modem, kita pun tidak bisa internetan di saat tertentu, seperti di jalan, di angkutan umum, di toilet, biarpun bisa terlalu memakan tempat untuk menyimpan laptop dan agak risih pula.

 Wow….,ternyata teknologi tak hanya sampai disitu dengan Handphone pun kita bisa internetan!!!!!!!, apalagi saat ini banyak bermunculan HP 3G, HP Android, dan lainnya yang bisa mendukung untuk berinternetan. Teknologi memang tidak ada matinya, dengan mudah kita dapat memperoleh informasi dari Handphone yang bisa kita bawa kemana-mana dan tidak memakan tempat terlalu banyak.
Apakah sampai disitu aja???, ternyata tidak, mungkin teknologi ini telah kalian ketahui dan sedang dikembangkan, teknologi ini dinamakan SIXTHSENSE

Diawali oleh anak muda India yang menginginkan bagaimana sesuatu yang ada di dunia nyata dapat kita masukan ke dunia digital, Woow…., kayak di The Matrix aja, , penasaran mau tau lebih lanjut, coba anda liat cuplikan videonya

Perangkat dari teknologi sixth sense terdiri dari proyektor mini, cermin, dan kamera serta marker (penanda) berwarna. Perangkat ini dapat dikalungkan. Baik proyektor maupun kamera dihubungkan dengan ‘laptop/PDA” mini.
Bayangkan bila bila semua informasi dapat kita dapatkan hanya dengan teknologi sixthsense ini, bukan tidak mungkin teknologi ini akan menjadi gaya hidup baru yang sangat bisa menjadi trend paling diinginkan.
Woooooww…..Amazing, apakah ini akhir dari Teknologi Informasi, atau awal dari teknologi baru HOLOGRAM
ya mungkin saja, toh tak ada yang tidak mungkin betul??, mungkin untuk mendapatkan informasi kita hanya membeli alat yang dapat mengeluarkan hologram yang mampu memberikan informasi apapun yang kita inginkan, ya kita tunggu saja.

BHINNEKA.COM 

Posted by umy 22 January 2011 0 comments

Salam Kritis, minggu sebelumnya saya akan mencoba untuk menjelaskan bagaimana mengevaluasi berpikir kritis dengan multiple choice, namun sebelum kesana alangkah lebih baik bila saya menjelaskan beberapa cara mengukur berpikir kritis oleh orang yang lebih kompeten dibandingkan saya,hee......heee....heee, berikut, artikelnya

beliau penulisnya, beserta riwayat, dan karyanya

William M. Bart[Professor, Educational Psychology, University of Minnesota]

Posted by umy 09 November 2010 0 comments

Dimulai saat saya skripsi, banyak teman-teman dan skripsi sebelumnya yang memilih variabelnya berpikir kritis, "wow kayaknya ni variabel gampang, soalnya banyak yang milih", tu yang saya pikirkan.

Apa dikata ternyata sulit sangat mencari instrumennya, saya cari di om google dengan keyword Critical thinking Test, Rubrik critical thinking Test, assessment for critical thinking test, dsb yang keluar halaman yang sama.

Namun dari pencarian tersebut, saya menemukan beberapa informasi bagaimana mengevaluasi berpikir kritis ini, seperti:
  1. dengan menggunakan multiple choice
  2. dengan essay
  3. dengan peta konsep

di artikel berikutnya saya akan mencoba untuk memaparkan bagaimana mengevaluasi menggunakan multiple choice beserta contohnya, maaf bila ada yang salah, masukan sangat saya harapkan terima kasih.

Posted by umy 02 November 2010 0 comments

Apakah anda sudah menonton Avatar yang di buat oleh 21 Century Fox Film disitu dikisahkan ada sebuah planet yang bernama Pandora, yang sebetulnya adalah sebuah Satelit dari planet Saturnus,
terdapat kehidupan tanpa adanya oksigen, tetapi ada air......dan ada sekelompok mahluk yang menyerupai manusia yaitu Na'vi.

 

Posted by umy 12 January 2010 0 comments







"Penangkaran plankton pada areal satu meter persegi dapat memproduksi bensin 14 liter per sepuluh hari, dengan ongkos produksi hanya Rp 380. Kalau ini dikembangkan kita dapat menikmati BBM harga murah,"

Artikel tersebut merupakan potongan artikel yang  saya ambil dari   
http://www.tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=9956&kategori=13

Dalam artikel tersebut dijelaskan ada seorang anak bangsa dengan Kerja keras mampu menghasilkan biodesel dengan bahan dasar plankton atau mikroalga, siapakah beliau mari kita simak.

CICIT Sultan Hamengkubuwono VII, Adji Koesoemo tidak menamatkan kuliahnya dari Fakultas Filsafat UGM, Yogyakarta. Dia hanya setahun menempuh pendidikan di bangku universitas ternama itu pada 1986. Dia kemudian banyak mengisi waktunya dengan unjuk rasa, hal yang masih ditabukan Orde Baru saat itu.

"Saya pernah merasakan kerangkeng Order baru," ujar Adji ditemui Persda Network pada acara penyerahan bibit padi Merah Putih hasil budi daya lembaga Indonesia Bangkit Yogyakarta yang dipimpinnya, di Salatiga, Jawa Tengah.

"Bensin berbahan planton ini sudah terbukti. Waktu kami demonstrasi di depan seorang tentara Cina, BBN menyala dan bagusnya tidak panas. Kalau tidak terbukti, mana mau saya mau ngomong di depan umum," ujar Damarjati yang mengaku kenal dekat dengan banyak peneliti termasu penemu blue energy asal Nganjuk Joko Suprapto.

Lebih jauh, Adji menerangkan asal-asul inspirasi penemuan BBN dari plankton. "Pikiran saya saederhana saja. Premium yang sekarang kita pakai kan hasil plankton yang mati jutaan tahun kemudian jadi fosil. Lalu saya berpikir, mengapa tidak dipotong prosesnya, langsung menggunakan bahan baku biota laut, plankton yang sangat banyak kita temui," ujarnya.

Menurut ayah tiga anak ini, jika produksi BBN dapat dilakukan secara massal, maka Indonesia tidak gunjang-ganjing oleh kenaikan harga BBM. "Kalau negara mendukung, saya bilang negara bukan pemerintah orang per orang, dan produksi dapat dilakukan dengan mengubah semua infrastruktur SPBU, dalam dua tahun Indonesia tidak akan kekurangan BBM," kata Adji yakin.

Produksi BBN, menurut dia dapat dilakukan massal, dengan kapasitas tak terbatas. Dengan menggunakan plankton, biota laut lainya akan terlindungi. Tidak ada proses perusakan terumbu karang, dan ikan-ikan serta potensi laut. Bahkan dia sedang menguji coba budidaya plaknton di darat. Perkembangbiakan plankton sendiri cangat cepat, seperti deret ukur atau perhitungan dengan perkalian.

"Penangkaran plankton pada areal satu meter persegi dapat memproduksi bensin 14 liter per sepuluh hari, dengan ongkos produksi hanya Rp 380. Kalau ini dikembangkan kita dapat menikmati BBM harga murah," ujarnya.

"Proses produksi sangat sederhana. Ke depan, dalam proyek besar, tanker minyak bisa sambil menyedot plankton, diolah kemudian langsung membawa minyak," tandasnya.

Temuan BBN sudah disampaikan kepada pemerintah, namun kurang mendapat repons. Kemudian, menurut Damarjati, saat ini sedang dikembangkan TNI AL. Bahkan Presiden Venezuela Hugo Chaves, mengatakan sangat tertarik mengembangkan energi alternatif ini.

Sesuai dengan tema Kerja Keras Adalah Energi Kita, mungkin penemuan ini sangat bermanfaat, dan penting untuk kita tindak lanjuti.

Berikut saya mendapatkan artikel yang berhubungan dengan bioplankton ini, saya ambil dari http://www.egamesbox.com/viewthread.php?tid=3761

Mikroalga memiliki kandungan minyak yang komposisinya mirip seperti tanaman darat, bahkan untuk jenis tertentu mempunyai kandungan minyak cukup tinggi melebihi kandungan minyak tanaman darat, seperti kelapa, jarak dan sawit. Mikroalga seperti Botrycoccus braunii, Dunaliella salina, Chlorella vulgaris, Monalanthus sauna mempunyai kandungan minyak berkisar 40 - 85% (sementara untuk kelapa hanya mengandung minyak sekitar 40 - 55%, jarak mempunyai kandungan minyak 43 - 58% , dan untuk sawit berkisar 45 - 70%. (Borowitzka, 1998) dan (Pootet, 2006).

Semua jenis alga memiliki komposisi kimia sel yang terdiri dari protein, karbohidrat, lemak (fatty acids) dan nucleic acids. Persentase keempat komponen tersebut bervariasi tergantung jenis alga. Ada jenis alga yang memiliki komponen fatty acids lebih dari 40%. Dan komponen fatty acids inilah yang akan diekstraksi dan diubah menjadi biodiesel.

Secara teoretis, produksi biodiesel dari alga dapat menjadi solusi yang realistik untuk mengganti solar. Hal ini karena tidak ada feedstock lain yang cukup memiliki banyak minyak sehingga mampu digunakan untuk memproduksi minyak dalam volume yang besar.

Tumbuhan seperti kelapa sawit dan kacang-kacangan membutuhkan lahan yang sangat luas untuk dapat menghasilkan minyak supaya dapat mengganti kebutuhan solar dalam suatu negara. Hal ini tidak realistik dan akan mengalami kendala apabila diimplementasikan pada negara dengan luas wilayah yang kecil.

Berdasarkan perhitungan, pengolahan alga pada lahan seluas 10 juta acre (1 acre =0.4646 ha) mampu menghasilkan biodiesel yang akan dapat mengganti seluruh kebutuhan solar di Amerika Serikat (Oilgae.com, 26/12/2006). Luas lahan ini hanya 1% dari total lahan yang sekarang digunakan untuk lahan pertanian dan padang rumput (sekitar 1 milliar acre). Diperkirakan alga mampu menghasilkan minyak 200 kali lebih banyak dibandingkan dengan tumbuhan penghasil minyak (kelapa sawit, jarak pagar, dan lain-lain) pada kondisi terbaiknya.

Hasil riset National Renewable Energy Laboratory Colorado menunjukkan bahwa untuk luasan areal yang sama mikroalga dapat menghasilkan minyak 30 kali lebih banyak dibandingkan tanaman darat. Hasil penelitian Shifrin pada tahun 1984 diperoleh bahwa rata-rata produktivitas mikroalga dapat mencapai 15-25 gram/m2/hari. Nilai produktivitas ini masih 10% dibawah teori hitungan maksimumnya.

Berdasarkan hal tersebut, jika diasumsikan, rendemen minyak dalam mikroalga misalnya 30-50%  dan waktu efektif 300 hari, maka untuk satu hektar lahan budibudaya  dalam satu tahun akan dihasilkan minyak sebanyak 15,8-37,5 ton.

Hasil ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan tanaman darat misalnya jarak 1,5 ton/hektar tahun atau sawit 3,3 - 6,0 ton/hektar/tahun. Biodiesel dapat dihasilkan dari berbagai sumber bahan yang terbaharukan baik tumbuhan maupun hewan.

Solar dari minyak tumbuhan/hewan ini diperoleh melalui proses transestrifikasi, yaitu dengan cara memanaskan pada suhu tertentu campuran alkohol dan minyak nabati dengan bantuan katalis basa atau asam misalnya NaOH atau H2SO4.. Katalis basa proses reaksinya lebih cepat, namun katalis basa dapat menyebabkan terbentuknya sabun sehingga rendemen biodiesel menjadi berkurang.

Keuntungan biodiesel dibandingkan dengan solar konvensional antara lain adalah lebih ramah lingkungan, seperti bersifat biodegradable, dan nilai emisinya rendah. (Wahyuni, Mita, Dr.MS). Ditulis oleh Djoko Rahardjo, Staf Pengajar  Fakultas Biologi, Universitas Kristen Duta Wacana.

Tak akan henti-hentinya menyebutkan bahwa Kerja Keras Adalah Energi Kita, apalagi yang kurang??????



Posted by umy 16 December 2009 1 comments

Subscribe here